BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan
pelajaran serat cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas
belajar mengajar. Kurikulum merupakan
salah satu komponen yang menentukan dalam suatu sistem pendidikan karena merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Apabila masyarakat dinamis, kebutuhan anak didik pun akan dinamis, maka
perkembangan kurikulum dinamis, sehingga peserta didik tidak terasing dalam
masyarakat.
Seiring
dengan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat, dan
dinamis, menuntut kemajuan masyarakat sebagai pelaku pendidikan juga
berkembang, untuk itu pemerintah melalui guru berusaha mewujudkan sumber daya
manusia yang kompeten sebagai produk hasil dari proses pendidikan. Maka dari itu perlu adanya pengembangan kurikulum sebagai modal dasar
agar pembelajaran dapat berjalan lancar dan
dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Dalam pengembangan kurikulum, banyak model-model yang digunakan dalam
pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja
didasarkan atas kelebihan dan kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil
yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem
pengelolaan pendidikan
yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan.
Dari beberapa penjelasan diatas, pengembangan
kurikulum sangat penting sekali bagi dunia pendidikan, agar tujuan daripada
pendidikan dapat terwujud dengan baik.
Ada beberapa model yang diungkapkan oleh para ahli dalam pengembangan
kurikulum, yang dalam hal itu, akan dibahas dalam makalah penulis yang berjudul
“model-model pengembangan kurikulum”.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Makna Model Pengembangan Kurikulum
Menurut Good dan Traaver, model adalah abstraksi dunia nyata atau
representasi pristiwa kompleks atau sistem dalam bentuk naratif, matematis,
grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan
tetapi merupakan representasi realitas yang
dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan
dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu ke dalam
realitas, yang sifatnya lebih praktis. Model berfungsi sebagai sarana untuk
mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat prespektif
untukmengambil keputusan atau sebagai petunjuk untuk kegiatan pengelolaan.
Pengembangan kurikulum tidak dapat terlepas dari berbagai aspek yang
memengaruhinya, seperti cara berfikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan,
politik, budaya, dan sosial), proses pengmbangan, kebutuhan peserta didik,
kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan
menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum. Model
pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka
mendasain (designing), menerpakan (implementation), dan
mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum.
Dalam pengembanga kurikulum, hendaknya sebisa mungkin didasarkan pada
faktor-faktor yang konstan sehingga ulasan mengenai hal yang dibahas dapat
dilakukan secara konsisten. Faktor-faktor konstan yang dimaksud adalah dalam
pengembangan kurikulum perlu didasarkan pada tujuan, bahan pelajaran, proses belajar
mengajar, dan evaluasi yang menggambarkan dalam pengembangan tersebut.
Faktor-faktor konstan tersebut, yang terdiri dari beberapa komponen tersebut,
harus saling bertalian erat. Misalnya evaluasi harus sesuai dengan tujuan yang
akan dicapai, begitujuga dengan bahan ajar dan proses belajar mengajar.
Sehingga, agar dapat mengembangkan kurikulum secara baik, pengembang
kurikulum semestinya memahami berbagai jenis model pengembangan kurikulum. Yang
dimaksud dengan model pengembangan kurikulum yaitu langkah atau prosedur
sistematis dalam proses penyususnan suatu kurikulum. Dengan memahami esensi
model pengembangan kurikulum dan sejumlah alternatif model pengembangan
kurikulum, para pengembang kurikulum diharapkan akan bisa bekerja secara lebih
sistematis, sistemik dan optimal. Sehingga haarpan ideal terwujudnya suatu
kurikulum yang akomodatif dengan berbagai kepentingan, teori dan praktik, bisa
diwujudkan.
B. Sumber Pengembangan Kurikulum
Dalam
pengembangan kurikulum, ada beberapa sumber atau landasan inti penyusunan
kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari pekerjaan dan kehidupan
orang dewasa. Karena sekolah mempersiapkan anak bagi kehidupan orang dewasa,
kurikulum terutama isi kurikulum diambil dari kehidupan orang dewasa.
Dalam
pengembangan selanjutnya, sumber ini menjadi luas meliputi berbagai unsur
kebudayaan. Manusia adalah mahluk yang berbudaya, hidup dalam lingkungan
budaya, dan turut menciptakan budaya. Untuk hidup dalam lingkungan budaya, ia
harus mempelajari budaya maka budaya menjadi sumber utama isi kurikulum,
Sumber
lain ialah anak, dalam pendidikan atau pengajaran, yang belajar adalah anak.
Pendidikan atau pengajaran bukan memberikan sesuatu kepada anak, melainkan
menumbuhkan potensi-potensi yang telah ada pada anak. Ada tiga pendekatan
kepada anak sebagai sumber kurikulum, yaitu kebutuhan siswa, perkembangan
siswa, dan minat siswa.
Beberapa
pengembanagn kurikulum berdasarkan pada pengalaman-pengalaman penyusunan
kurikulum yang lalu. Pengalaman pengembangan kurikulum yang lalu menjadi sumber
penyusunan kurikulum kemudian. Kemudian, yang menjadi sumber penyusunan
kurikulum ialah kekuasaan sosial politik. Di Indonesia pemegang kekuasaan
social-politik dalam penentuan kurikulum adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah, serta Dirjen Pendidikan Tinggi bekertasama dengan Balitbangdigbud.
C. Model-model Pengembangan Kurikulum
1. Model Ralph Tyler (Basic Principles Curriculum and Instruction)
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Tyler (1949) diajukan
berdasarkan pada beberapa pernyataan yang mengarah pada langkah-langkah dalam
pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, menurut Tyler ada empat tahap yang harus
dilakukan dalam pengembangan kurikulum, seperti gambar berikut:
Evaluation
a. Menentukan
tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan arah atau sasaran akhir yang harus dicapai
dalam program pendidikan dan pembelajaran. Tujuan pendidikan harus
menggambarkan perilaku akhir setelah peserta didik mengikuti program
pendidikan, sehingga tujuan tersebut harus dirimuskan secara jelas sampai pada
rumusan tujuan khusus guna mempermudah pencapaian tujuan tersebut.
Ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dalam penentuan
tujuan pendidikan menurut Tyler, yaitu : a) hakikat pesarta didik b) kehidupan
masyarakat masa kini dan c) pandangan para ahli bidang studi. Penentuan tujuan
pendidikan dengan berdasarkan masukan dari ketiga aspek tersebut. Kemudian
difilter oleh nilai-nilai filosofis masyarakat dan silosofis pendidikan serta
psikologi pendidikan.
Selain itu ada lima faktor yang menjadi arah penentu tujuan pendidikan,
yaitu : pengembangan kemampuan berfikir, membantu memperoleh informasi,
pengembangan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat peserta didik, dan
pengembangan sikap sosial. Jadi, dalam menentukan tujuan pendidikan hendaknya
jangan hanya memperhitungkan pendapat para ahli disiplin ilmu melainkan juga
kebutuhan dan minat anak dan masyarakat yang sesuai dengan falsafah Pendidikan.
b. Menentukan proses pembelajaran
Setelah penetapan tujuan, selanjutnya ialah menetukan proses pembelajaran
apa yang paling cocok dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu
aspek yang harus diperhatikan dalam penentuan proses pembelajaran adalah
persepsi dan latar belakang kemampuan paserta didik. Hal ini agar mereka dapat
mengadakan reaksi mental dan emosional maupun dalam bentuk kelakuan.
c. Menentukan organisasi pengalaman belajar
Setelah proses pembelajaran ditentukan, selanjutnya menentukan organisasi
pengalaman belajar. Pengalaman belajar di dalamnya mencakup tahapan-tahapan
belajar dan isi atau materi belajar. Bahan yang harus dipelajari peserta didik
dan pengalaman belajar apa yang harus dilakukan, diorganisasikan sedemikian
rupa sehingga dapat memudahkan dalam pencapaian tujuan. Kejelasan tujuan,
materi belajar dan proses pembelajaran serta urutan-urutan akan mempermudah
untuk memperoleh gambaran tentang evaluasi pembelajaran apa yang sebaiknya
digunakan.
d. Menentukan evaluasi
pembelajaran
Menetukan jenis evaluasi apa
yang cocok digunakan, merupakan kegiatan akhir dalam model Tyler. Jenis
penilaian yang akan digunakan, harus disesuaikan dengan jenis dan sifat dari
tujuan pendidikan atau pembelajaran, materi pembelajaran, dan proses belajar
yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar penetapan jenis evaluasi bisa tepat,
maka para pengembang kurikulum disamping harus memerhatikan komponen-komponen
kurikulum lainnya, juga harus memerhatikan prinsip-prinsip evaluasi yang ada.[1]
Jadi dalam melakukan evaluasi
hendaknya jangan hanya berbentuk tes tertulis akan tetapi juga berupa observasi,
hasil pekerjaan siswa, kegiatan dan partisipasinya serta menggunakan
metode-metode lainnya agar diperoleh gambaran yang lebih komperhensif tentang
taraf pencapaian tujuan pendidikan.
2. Model Taba (inverted Model)
Model Taba merupakan modifikasi dari model Tyler. Modifikasi tersebut
penekanannya terutama pada pemusatan perhatian guru. Taba memrcayai bahwa guru
merupakan faktor uatama dalam usaha pengembangan kurikulum. Pengembangan
kurikulum yang dilakukan guru dan memosisikan guru sebagai inovator dalam
pengembangan kurikulum merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba.
Langkah-langkah dalam proses pengembangan kurikulum menurut Taba:
a.
Diagnosis
Kebutuhan
Agar kurikulum menjadi berguna pada pengalaman belajar murid, Taba
berpendapat bahwa segatlah penting mendiagnosis berbagai kebutuhan pendidik.
Hal ini merupakan langkah penting pertama dari Taba tentang apa yang anak didik
inginkan dan perlukan untuk belajar. Karena latar belakang peserta didik yang
beragam, maka diperlukannya diagnosis tentang gaps, berbagai kekurangan,
(deficiencies), dan perbedaan latar belakang peserta didik (variations
in these background).
b.
Formulasi
Pokok-pokok (Merumuskan tujuan pendidikan)
Formusai yang jelas dan tujuan-tujuan yang koperhensif untuk membentuk dasar pengembangan
elemen-elemen berikutnya. Secara jelas, taba berpendapat bahwa hakikat tujuan
akan menentukan jenis pelajaran yang perlu untuk diikuti.
Dalam merumuskan tujuan
pendidikan, ada empat area yang perlu diperhatikan, pertama, konsep atau ide
yang akan dipelajari (concepts or ideas to be learned). Kedua, sikap,
sensitivitas, dan perasaan yang akan dikembangkan (attitudes, sensitivities,
and feeling to be developed). Ketiga, pola pikir yang akan ditekankan,
dikuatkan, atau dimulai/dirumuskan (ways of thingking to be reinforced,
strengthened, or initiasted). Keempat, kebiasaan dan kemampuan yang akan
dikuasai (habits and skills to be mastered).
c.
Seleksi Isi
Menurut Taba, isi (materi) yang akan diajarkan kepada peserta didik
adalah 1). Harus Valid dan signifikan, 2). Isi Harus relevan dengan kenyataan
sosial, 3). Isi hasus mengandung keseimbangan antara keluasan dan kedalaman.
4). Isi harus mencakup beberapa tujuan, 5). Isi harus dapat disesuaikan dengan
kemampuan peserta didik untuk mempelajarinya, dan bisa dihubungkan dengan
pengalaman mereka.
d.
Organisasi
isi
Dalam menyusun kurikulum, terutama terkait dengan bentuk penyajian bahan
pelajaran/isi atau organisasi kurikulum/isi, ada dua organisasi kurikulum yang
bisa menjadi pilihan, yaitu kurikulum berdasarkan mata pelajaran dan kurikulum
terpadu.
e.
Seleksi
pengalaman belajar
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam seleksi pengalaman belajar
peserta didik. 1. Pengalaman peserta didik harus sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai. Sebab, setiap tujuan akan menentukan pengalaman pembelajaran. 2.
Setiap pengalaman belajar harus memuaskan peserta didik 3. Setiap rancangan
pengalaman belajar sebaiknya melibatkan peserta didik, 4. Dalam satu pengalaman
belajar kemungkinan dapat mencapai tujuan yang berbeda.
f.
Organisasi
Pengalaman belajar
Mengutip pendapatnya Tyler, terdapat tiga prinsip dalam mengorganisasi
pengalaman belajar, yaitu kontinuitas, urutan isi dan integrasi. Kontinuitas
bearti bahwa, pengalaman belajar yang diberikan harus memiliki kesinambungan
yang diperlukan untuk pengembangan belajar selanjutnya dan untuk memperoleh
pengalaman belajar dalam bidang lain. Adapun urutan isi, artinya setiap
pengalaman belajar yang diberikan kepada peserta didik harus memperhatikan
tingkat perkembangan mereka.
g.
Penetuan
tentang apa yang harus dievaluasi dan cara untuk melakukannya.
Dalam melakukan evaluasi, Taba menganjurkan beberapa hal, 1. Menetapkan
kriteria penilaian, 2. Menyususn program evaluasi yang koperhensif, 3.
Menerapkan teknik pengumpulan data, 4. Melakukan interpretasi data evaluasi, 5.
Menerjemahkan evaluasi ke dalam kurikulum.
3. Model Oliva
|
|
|
|
|
|
Menurut oliva, suatu model kurikulum harus bersifat simpel, koperhensif
dan sistematik. Oliva menggambarkan bahwa dalam pengembangan suatu kurikulum,
ada 12 komponen yang satu sama lain saling berkaitan, seperti yang terlihat
dalam gambar berikut.
Dari bagian di atas, tampak
model pengenbangan kurikulum yang dikemukakan oleh olivia.
Komponen Pertama, perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi pendidikan, yang semianya
berseumber dari analisis kebutuhan siswa dan analisis kebutuhan masyarakat.
Komponen Kedua, adalah analisis kebutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada,
kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan oleh
sekolah. Sumber kurikulum dapat dilihat dari komponen satu dan dua ini.
Komponen satu berisi pernyataan-pernyataan yang bersifat umum dan sangat ideal.
Sedanglan komponen dua sudah mengarah pada tujuan yang lebih khusus.
Komponen Ketiga dan keempat, berisi tentang tujuan umum dan tujuan khusus
kurikulum yang didasarkan pada kebutuhan seperti yang tercantum pada komponen
satu dan dua.
Komponen kelima, mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum.
Komponen keenam
dan ke tujuh, mulai menjabarkan kurikulum
dalam bentuk perumusan tujuan umum dan khusus pembelajaran.
Komponen kedelapan, menetapkan strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat tercapai
tujuan .
Komponen
kesembilan, setudi awal tentang strategi
dan teknik penilaian yang dapat digunakan.
Komponen
kesepuluh, mengimplementasikan strategi
kurikulum, setelah strategi diimplementasikan, pengembangan kurikulum kembali
ke komponen sembilan atau komponen sembilan plan B, untuk menyempurnakan alat
atau teknik penilaian.
Komponen ke
sebelas dan duabelas, dilakukan
evaluasi terhadap pembelajaran dan evaluasi kurikulum.
4.
D.K. Wheeler (Curriculum Process)
Wheeler mempunyai argument tersendiri agar
pengembangan kurikulum dapat menggunakan lingkar proses, yang setiap elemennya
saling berhubungan dan saling bergantung. Pendekatan
yang digunakan Wheeler dalam
pengembangan kurikulum pada dasarnya memiliki bentuk rasional. Setiap
langkahnya merupakan pengembangan secara logis terhadap model sebelumnya, dan
suatu langkah tidak dapat dilakukan sebelum langkah-langkah sebelumnya telah
diselesaikan. Wheeler mengembangkan ide-idenya
sebagaimana telah dilakukan oleh Tyler dan Taba. Wheeler menawarkan lima langkah yang saling keterkaitan dalam proses kurikulum.
Lima langkah itu jika dikembangkan dengan logis dan
temporer akan menghasilkan suatu kurikulum yang efektif. Wheeler mengembangkan lebihlanjut apa yang dilakukan Tyler dan Taba, meski hanya
dipersentasikan agak berbeda. Adapun langkah-langkah tersebut adalah sebagai
berikut.
a.
Seleksi
maksud, tujuan, dan sasarannya.
b.
Seleksi
pengalaman belajar untuk membantu mencapai maksud, tujuan dan sasaran.
c.
Seleksi isi
melalui tipe-tipe tertentu dari pengalaman yang mungkin ditawarkan.
d.
Organisasi
dan integrasi pengalaman belajar dan isi yang berkenaan dengan proses
belajar mengajar
e.
Evaluasi
setiap fase dan masalah tujuan-tujuan.
Berikut merupakan model
pengembangan kurikulum versi Wheeler dalam bentuk lingkaran:
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||

Kontribusi Wheeler terhadap pengembangan kurikulum adalah terhadap hakikat lingkaran dari
elemen-elemen kurikulum. Kurikulum proses disini tampak lebih sederhana dan
gambar diatas memberikan indikasi bahwa langkah-langkah dalam lingkaran yang bersifat berkelanjutan memiliki
makna responsif terhadap perubahan-perubahan pendidikan yang ada.
5. Audery dan
Howard Nicholls
Audery dan Howard Nicholls mengembangkan suatu pendekatan
yang tegas mencakup elemen-elemen kurikulum dengan jelas dan ringkas. Ia
menitikberatkan pada pendekatan pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya
kebutuhan untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi.
Audery dan
Howard Nicholls mendefinisikan kembali metodenya Tyler, Taba dan Wheeler dengan
menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran, dan
ini dilakukan demi langkah awal, yaitu analisis situasi. Kedua penulis ini
mengungkapkan bahwa sebelum elemen-elemen tersebut diambil atau dilakukan
dengan lebih jelas, konteks dan situasi di mana keputusan kurikulum itu dibuat
harus dipertimbangkan secara mendetail
dan serius. Dengan demikian, analisis situasi menjadi langkah pertama yang
menbuat para pengembang kurikulum memehami faktor-faktor yang akan mereka
kembangkan[2].
Ada lima langkah yang diperlukan dalam proses pengambangan secara kontinu.
Langkah-langkah tersebut:
a.
situasional
analysis (analisis situasi)
b.
selection of
objectives (seleksi tujuan)
c.
selection and
organization of content (seleksi dan
organisasi isi)
d.
selection and
organization of methods (seleksi dan
organisasi mode)
e.
evaliation (evaluasi)
Masuknya fase analisis situasi merupakan suatu yang disengaja untuk
memaksa para pengembang kurikulum lebih responsif terhadap lingkungan dan
secara khusus dengan kebutuhan anak didik. Kedua lebih menekankan perlunya
memakai pendekatan yang lebih komperhensif untuk mendiaknosis semua faktor
menyangkut semua situasi dengan diikuti penggunaan pengetahuan dan pengertian yang berasal dari
analisis tersebut dalam perencanaan kurikulum. Untuk lebih memahami model
kurikulum yang dibuat Nicholls, bisa mengamati sesuai gamba berikut.
![]() |
|||
![]() |
|||
Dengan menerapkan situasional analysis
sebagai titik permulaan, model ini memberikan dasar data sehingga tujuan-tujuan
yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan. Berbeda halnya dengan Wheeler ia
tidak merujuk pada analisis situasi yang spesifik, ia sebenarnya lebih menguji
pada keberadaan sumber tujuan yang ada.
6. Deckler
Walker
Walker
berpendapat bahwa para pengembang kurikulum tidak mengikuti pendekatan yang
telah ditentukan dari urutan yang rasional dari elemen-elemen kurikulum ketika
mereka mengembangkan kurikulum. kurikulum. Lebih baik memprosesnya
melalui tiga fase di dalam persiapan natural daripada dalam kurikulum.
Kesimpulan tersebut berasal dari analisis Walker terhadap laporan proyek
kurikulum, seperti CHEM Stuidi, BSCS, SMSG serta partisipasi pribadinya dalam
proyek kurikulum bidang kesenian. Analisis Walker menguraikan apa yang telah
dilihat sebagai model alami dalam proses kurikulum. It is a naturalistic
model in the sense that it was constructed to represent phenomena and realtions
observed in actual curriculum projects faithfully as possible with a few terns
and principles.
Untuk lebih
jelasnya mengenai model kurikulum versi Walker ini, kita bisa lihat gambar
berikut:
![]() |
|||||
![]() |
|||||
|
|||||
(applying them to practical
situations arguing about, accepting, refusing, changing, adapting)
|
||||
(Making decision about the various
process componen)
Walker
mempunyai argument bahwa pernyataan platform di organisasikan oleh para
pengembang kurikulum dan pernyataan tersebut berisi serangkian ide, prefensi
dan pilihan, pendapat, keyakinan, dan nilai-nilai yang dimiliki kurikulum.
Aspek-aspek tersebut mungkin tidak definisikan atau secara logis, tapi
mereka membrntuk basis platform sehingga kurikulum mendatang bisa dibuat oleh
pengembang kurikulum.
Walker berpendapat bahwa pengembang kurikulum tidak memulai tugas dalam
keadaan kosong (a blank state), nilai-nilai, konnsepsi, dan hal-hal lain
yang pengembangan kurikulum gunakan untuk oroses pengembangan kurikulum
mengindikasikan adanya kesukaan dan perlakuan sebagai dasar mengembangkan
kurikulum. Walker mengajurkan bahwa: The Platfrom includes an idea of what is
ought to be and these guides the curriculum developer in the dertemining what
should be do to realize his vision
Ketika
interaksi di antara individu dimulai, mererka kemudian memasuki fase
pertimabangan yang mendalam. Walker berpendapat bahwa selama fase ini, individu
mempertahankan pertanyaan platform mereka sendiri dan menekanakan pada idde-ide
yang ada. Berbagai peristiwa ini memberikan suatu (developers) juga beusaha
menjelaskan ide-ide mereka mencapai suatu konsesus. Dari periode yang agak
kacau, fase yang telah dipertimbangkan menghasilkan suatu ilmuniti yang penuh
pertimbangan.
Fase model
terakhir Walker adalah menggunakan bentuk design. Pada fase ini, developers
membuat keputusan tentang berbagai komponen proses atau elemen-elemen kurikulum.
Keputusan akan dicapai setelah ada diskusi mendalam dan dikompromikan oleh
individu-individu. Keputusan-keputusan itu kemudian deirekam dan menjadi basis
data untuk dokumen kurikulum atau materi yang lebi
spesifik.
7. Malcolm
Skilbeck (dyanamic or interactive models)
Malkom Skilback, direktur Pusat
Pengembangan Kurikulum Austalia ( Australia’s Curriculum Development Center),
mengembangkan suatu interaksi altertnatif atau model dinamis bagi suatu
interaksi alternatif atau model dinamis bagi model proses kurikulum. Dalam
sebuah artikelnya, Skilbeck (1976) mengajurkan suatu pendekatan dan
mengembangkan kurikulum pada tingkat sekolah. Pendapatnya mengenai sekolah di
dasarkan pada pengembangan kurikulum (SCBD), sehingga Skilbeck memberikan suatu
model yang membuat pendidik dapat mengembangkan kurikulum secara tepat dan
realistic. Dalam hal ini, Skilbeck memepertimbangkan model dynamic in nature.
Model dinamis atau interaktif (dyanamic
or interactive models) menetapakan pengembangan kurikulum harus
mendahulukan sustu elemen kurikulum dan memualianya dengan suatu dari urutan
yang telah ditetntukan dan diajurkan oleh model rasional. Skilbeck mendukung
petunjuk tersebut, menambahkan sangat penting bagi developers untuk menyadari
sumber-sumber tujuan mereka. Untuk mengetahui sumber-sumber tersebut, Skilbeck
berpendapat bahwa “a situasional analysis” harus dilakukan. Untuk lebih mudah memahami
model yang ditawarkan Skilbeck, gamabr ini mungkin bisa membantu:
![]() |
Model ditas mengkalim bahwa agar
School-Based Curriculum Development (SBCD) dapat bekerja secara efektif, lima
langkah (steps) diperlukan dalam suatu proses kurikulum. Skilbeck berkata bahwa
model dapat diaplikasikan secara bersama dalam pengemban kurikulum, observasi
dan peneliaan sistem kurikulum, dan aplikasi nilai dari model tersebut pada
nilai dan model tersebut terletak pada pilihan pertama.
Mengingat susunan model ini secara
logis termasuk kategori rational by natur, namun Skilbeck mengingatkan bahwa
agar tidak terjurumus pada perangkap (trap). Skilbeck mengingatkan bahwa
pengembangan kuriulum (curriculum development) perlu mendahulukan rencana
mereka dengan memulainya dari salah satu langakah (stage) tersebut secara
bersamaan. Pengertian model di atas sangat sangat membingungkan, karena
sebenarnya model tersebutmendukung pendekang rasional daripada pengembangan
kurikulum. Namun demikian, Skilbeck berkata: The model outlined does not
presuppose a means and analysis at all, it simply encourages teams and or
groups of curriculum developers to take account different elements and aspects
of the curriculum development process, to the see the process as an organic
whole and to wrok in a moderately systematic way
Satu hal yang perlu digarisbawahi
adalah bahwa alat ini tidak mengisyaratkan suatu alat. Tujuananya adlah
menganalisis secara keseluruhan; tetapi secara simbol telah mendorong teams
atau groups dari pengembang kurikulum untuk lebih memperhatikan perbedaan-perbedaan
elemen dan aspek-aspek proses pengembangan kurikulum, agar lebih bisa melihat
proses bekerja dengan cara sistematik dan moderat.
8. Model Administratif
Pengembangan kurikulum model
ini disebut juga dengan istilah dari atas ke bawah (top down) atau staf lini (line-staff
procedure), artinya pengembangan kurikulum ini ide awal dan pelaksanaannya
dimulai dari para pejabat tingkat atas pembuat keputusan dan kebijakan
berkaitan dengan pengembangan kurikulum. Tim ini sekaligus sebagai tim pengarah
dalam pengembangan kurikulum. Langkah kedua adalah membentuk suatu tim panitia
pelaksana atau komisi untuk
mengembangkan kurikulum yang didukung oleh beberapa anggota yang terdiri dari
para ahli, yaitu: ahli pendidikan, kurikulum, disiplin ilmu, tokoh masyarakat,
tim pelaksana pendidikan, dan pihak dunia kerja.
Tim ini bertugas untuk
mengembangkan konsep-konsep umum, landasan, rujukan, maupun strategi
pengembangan kurikulum yang selanjutnya menyusun kurikulum secara operasional
berkaitan dengan pengembangan atau perumusan tujuan pendidikan maupun
pembelajaran, pemilihan dan penyusunan rambu-rambu dan substansi materi
pelajar, menyusun alternatif proses pembelajaran, dan menentukan penilaian
pembelajaran.
Setelah semua tugas dari dari tim kerja pengembangan kurikulum tersebut
telah usai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain yang
berwewenang atau pejabat yang berkompeten. Setelah mendapatkan beberapa
kesempurnaan dan dinilai lebih cukup baik, administer pemberi tugas menetapkan
berlakunya kurikulum tersebut serta memerintahkan sekolah-sekolah untuk
melaksanakan kurikulum tersebut.[3]
Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut, selama tahun-tahun permulaan
diperlukan pula adanya kegiatan monitoring, pengamatan dan pengawasan serta
bimbingan dalam pelaksanaannya. Setelah berjalan beberpa saat, perlu juga
dilakukan suatu evaluasi, untuk menilai baik validitas komponen-komponenya.
Penilaian tersebut dapat dilakukan oleh tim khusus dari tingkan pusat atau
daerah, sedangkan penilaian sekolah dapat dilakukan oleh tim khusus sekolah
yang bersangkutan. Hasil penilaian tersebut adalah merupakan umpan balik, baik
bagi instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah dan sekolah.
9. Model Grass Roots
Pengembangan kurikulum model ini kebalikan dari model adaministratif.
Model Grass Roots merupakan model
pengembangan kurikulum yang dimulai dari arus bawah. Pengembangan kurikulum
model ini, berada ditangan staf pengajar sebagai pelaksana pada suatu sekolah
atau beberapa kesolah sekaligus. Model ini didasaarkan pada pandangan bahwa
implementasi kurikulum akan lebih berhasil jika staf pengajar sebagai pelaksana
seudah sejak semula diikutsertakan dalam pengenbagan kurikulum. Model Grass Roots lebih demokratis karena
pengembangan dilakukan oleh para pelaksana di lapangan, sehingga perbaikan dan
peningkatan dapat dimulai dari unit-unit terkecil dan spesifik menuju
bagian-bagian yang lebih besar.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum
model Grass Roots, di antaranya : 1)
guru harus memiliki kemampuan yang propesional; 2) guru harus terlibat penuh
dalam perbaikan kurikulum, penyeselaian permasalahan kurikulum; 3) guru harus
terlibat langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan, dan penentuan
evaluasi; 4) seringnya pertemuan pemahaman guru dan akan menghasilkan konsensus
tujuan, perinsip, maupun rencana-rancana. Ada beberapa hal yang harus
diantisipasi dalam model ini, diantaranya adalah akan bervariasinya sistem
kurikulum di sekolah karena menerapkan partisipasi sekolah dan masyarakat
secara demokratis. Sehingga apabila tidak terkontrol (tidak ada kendali mutu),
maka cendrung banyak mengabaikan kebijakan dari pusat.
Pengembangan
atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu
atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen
kurikulum. Apabila kondisinya telah memingkinkan, baik dilihat dari kemampuan
guru, fasilitas, biaya, maupun bahan-bahan perpustakaan, pengembangan kurikulum
model grass roots akan lenih baik. Hal itu
didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga
penyempurna dari pengajaran di kelasnya.
Dialah yang paling tau kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang
paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
10. Model Demonstrasi
Model pengembangan kurikulum idenya datang dari bawah (Grass Roots). Semula merupakan suatu
upaya inovasi kurikulum dalam skala kecil yang selanjutnya digunkan dalam skala
yang lebih luas, tetapi dalam prosesnya sering mendapat tantangan atau
keidaksetujuan dari pihak-pihak tertentu. Menurut Smith, Stanley, dan Shores,
ada dua bentuk model pengembangan ini.
Pertama; sekelompok guru dari satu
sekolah atau beberapa sekolah yang diorganisasi dan ditunjuk untuk melaksanakan
suatu uji coba atau eksperimen suatu kurikulum. Proyek ini bertujuan mengadakan
penelitian dan pengembangan tentang salah satu atau beberapa segi/ komponen
kurikulum. Hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan dapat digunakan
bagi lingkungan yang lebih luas,
Kedua; dari bebrapa orang
guru yang merasa kurang puas tentang kurikulum yang sudah ada, kemudian mereka
mengadakan eksperimen, uji coba, dan mengadakan pengembangan secara mandiri.dengan
kegiatan ini, mereka mereka mengharapkan ditemukan kurikulum, atau aspek
tertentu dari kurikulum yang lebih baik, untuk kemudian digunakan di daerah
yang lebih luas.
Ada beberapa kebaikan dalam penerapan model pengembangan ini, di
antaranya adalah : 1) kurikulum ini akan lebih nyata dan praktis karena
dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan diteliti secara ilmiah; 2)
perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus
kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan
perubahn kurikulum yang sangat luas dan kompleks; 3) hakikat model demonstrasi
cerskala kecil akan terhindar dari kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di
lapangan; 4) model ini akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta
memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat
guru dalam mengembangkan program yang baru.
Dari beberapa model pengembagan kurikulum yang telah diuraikan diatas,
ditemukan beberapa perbedaan yang masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan masing-masing. Dalam pengembangan kurikulum model apapun yang
digunakan adalah model yang digunakan dalam kurikulum, dan kurikulum tersebut
baik pada masanya. Sebenarnya masih
banyak model-model pengembagan kurikulum yang lain beserta langkah-langkah yang
ditawarkan yang juga memiliki orientasi kata yang berbeda dengan yang lainnya.
Namun, pada dasarnya semua kurikulum tersebut, memiliki komponen tujuan, bahan,
proses belajar mengajar, dan evaluasi yang sama.
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa model pengembangan
kurikulum adalah langkah sistematis dalam penyususnan kurikulum. Alternatif
prosedur dalam rangka mendesain, menerapkan dan mengevaluasi suatu
kurikulum.model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses
sistem perencanaan program pembelajaran
yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam
pendidikan, berdasarkan pada perkembangan teori dan praktek kirikulum.
Ada banyak model-model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para
ahli, diantaranya: 1).Model Ralph Tyler (Basic Principles Curriculum and
Instruction). 2). Model Taba (inverted Model), 3). Model
Olivia 4). D.K. Wheeler (Curriculum Process), 5). Audery dan Howard Nicholls, 6). Deckler Walker, 7). Malcolm
Skilbeck (dyanamic or interactive models), 8).
Model Administratif, 9). Model
Grass Roots, 10). Model Demonstrasi, dari beberapa model tersebut, pada dasarnya semua kurikulum tersebut, memiliki komponen tujuan, bahan,
proses belajar mengajar, dan evaluasi yang sama.
Daftar Pustaka
Arifin, Zainal, Pengembangan
Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan Islam, Jogjakarta: Diva Press
Idi, Abdullah, Pengembangan Kurikulum teori dan Praktik, Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2013
Nasution, Pengembangan
Kurikulum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:
Kalam Mulia, 2002
Ruhimat, Toto dan
Alinawati, Muthia, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Rajawali Press, 2013
Sanjaya, Wina, Kurikulum dan Pembelajaran:
Teori dan Praktik pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan,
Jakarta: Kencana, 2011
Subandijah, Pengembangan dan inovasi
Kurikulum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996
Sukmadinata, Nana
Syaodih, Pengembangan kurikulum teori dan praktik, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1999
Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung:
PT. Imperial Bhakti Utama, 2007
[3]
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum teori
dan praktik, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 161
UCAPAN TERIMAKASIH SEBESAR-BESARNYA KEPADA :
MAKALAH INI DISUSUN OLEH REKAN-REKAN SAYA YAKNI :
Intan Oph Darwin
Firdaus Adiannur
Fanny Sella
FKIP UNSIYAH 2014.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar