Sabtu, 26 Desember 2015

KEBIJAKAN KURIKULUM

BAB 1
PENDAHULUAN

1.      Latar blakang
Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan. Persoalan itu memang tidak akan pernah selesai, karena substansi yang ditransformasikan selama proses pendidikan dan pembelajaran selalu berada di bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan masyarakat. Salah satu persoalan pendidikan kita yang masih menonjol saat ini adalah adanya kurikulum yang silih berganti dan terlalu membebani anak tanpa ada arah pengembangan yang betul-betul diimplementasikan sesuai dengan perubahan yang diinginkan pada kurikulum tersebut.


2.      Rumusan masalah
a.       Pengertian kurikulum..?
b.      Fungsi kurikulum …?
c.       Jenis kurikulum..?
d.      Tujuan kurikulum..?
e.       Kebijakan kurikulum ?

2.  Tujuan
 Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
hui kebijakan kurikulum di Indonesia

3.  Manfaat
Makalah ini disusun dengan harapan dapat bermanfaat :
Untuk menambah wawasan mahasiswa tentang kurikulum, terutama dalam kajian bahasa.
Untuk bahan reverensi bagi siapa saja yang tertarik pada kurikulum



BAB 2
PEMBAHASAN

1.     Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah progam pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan bagi peserta didk. Kurikulum juga berbentuk segala pengalaman pendidikan yang diberikan oleh lembaga pendidik kepada seluruh peserta didik baik dilakukan dalam lembaga maupun diluar lembaga pendidikan.
Menurut UU no 20 tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan isi dan juga bahan pembelajaran sebagai pedoman kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2.     Fungsi Kurikulum
Dilihat dari sisi pengembangan kurikulum (guru) kurikulum mempunyai fungsi sebagai berikut:
Ø  Fungsi preventif

Yaitu mencegah kesalahan pengembang kurikulum terutama dalam melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kurikulum.

Ø  Fungsi korektif

Yaitu mengkoreksi dan membetulkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pengembang kurikulum dan melaksanakan kurikulum.

Ø  Fungsi konstruktif
Yaitu memberikan arah yang jelas bagi para pelaksana dan pengembang kurikulum untuk membangun kurikulum yang lebih baik pada masa yang akan dating








          Dilihat dari sisi pengembangan kurikulum terhadap siswa fungsi kurikulum dapat dibagi enam:

Ø  Fungsi penyesuaian

Yaitu mengarahkan siswa untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar.



Ø  Fungsi integrasi
Yaitu sebagai alat pendidikan yang harus mamapu menghasilkan pribadi yang baik.

Ø  Fungsi diferensiasi
Yaitu harus mampu memberi pelayanan terhadap perbedaan setiap individu siswa.

Ø  Fungsi persiapan
Mempersiapkan siswa untuk melanjutkan kejenjeng studi berikutnya.

Ø  Fungsi pemilihan
Yaitu memberi kesempatan pada siswa untuk program belajar yang diminatinya.

Ø  Fungsi diagnostic
Yaitu harus mampu membuat siswa memahami potensi yang dimilikinya.




                  









a)     Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendididkan
Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendididkan.dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri. Dengan demikian, dinegara kita tidak sama dengan Negara-negara lain, untuk itu, maka:
  1. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,
  2. Kuriulum merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan-tujuan itu,
  3. Kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

b)    Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan
            Kurikulum Bagi Sekolah yang Bersangkutan mempunyai fungsi sebagai berikut:
  1. Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan
  2. Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah tersebut, fungsi ini meliputi:
    • Jenis program pendidikan yang harus dilaksanakan
    • Cara menyelenggarakan setiap jenis program pendidikan
    • Orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program pendidikan.

c)     Fungsi kurikulum yang ada di atasnya
  1. Fungsi Kesinambungan. Sekolah pada tingkat atasnya harus mengetahui kurikulum yang dipergunakan pada tingkat bawahnya sehingga dapat menyesuaikan kurikulm yang diselenggarakannya.
  2. Fungsi Persiapan Tenaga. Bilamana sekolah tertentu diberi wewenang mempersiapkan tenaga guru bagi sekolah yang memerlukan tenaga guru tadi, baik mengenai isi, organisasi, maupun cara mengajar.





d)    Fungsi Kurikulum Bagi Guru
Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi juga sebagai pengembangan kurikulum dalam rangaka pelaksanaan kurikulum tersebut.

e)     Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah
Bagi kepala sekolah, kurikulum merupakan barometer atau alat pengukur keberhasilan program pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk menguasai dan mengontrol, apakah kegiatan proses pendidikan yang dilaksanakan itu berpijak pada kurikulum yang berlaku.

f)      Fungsi Kurikulum Bagi Pengawas (supervisor)
Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dan menetapkan bagaimana yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pelaksanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.

g)     Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat
Melalui kurikulum sekolah yang bersangkutan, masyarakat bisa mengetahui apakah pengetahuan, sikap, dan nilai serta keterampilan yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kurikulum suatu sekolah.

h)    Fungsi Kurikulum Bagi Pemakai Lulusan
Instansi atau perusahaan yang mempergunakan tenaga kerja yang baik dalamarti kuantitas dan kualitas agar dapat meningkatkan produktivitas.







3.     Tujuan Kurikulum

Tujuan kurikulum pada dasarnya merupakan tujuan setiap program pendidikan yang diberikan kepada anak didik, Karena kurikulum merupakan alat antuk mencapai tujuan, maka kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan. Dalam sistem pendidikan di Indonesia tujuan pendidikan bersumber kepada falsafah Bangsa Indonesia. Di Indonesia ada

4 tujuan utama yang secara hirarki sebagai baerikut:
a.      Tujuan Nasional
 Dalam Undang-undang No. 2 tahun 1980 tentang sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan nasional disebutkan Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Kesehatan asmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tariggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dari tujuan nasional kemudian dijabarkan ke dalam tujuan insitusional/ lembaga, tujuan kurikuler, sampai kepada tujuan insfruksional dengan penjabaran sebagai berikut.


b. Tujuan Intitusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu lembaga pendidikan, umpamanya MI. MTs, MA, SD, SMP, SMA, dan sebagainya. Artinya apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan tersebut, Sebagai contoh, kemampuan apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan iersebut. Sebagai contoh, kemampuan apa yang diharapkan dimiliki oleh anak yang tamat MI, MTs, atau Madrasah Aliyah. Rumusan tujuan institusional harus merupakan penjabaran dan tujuan umum (riasional), harus memiliki kesinambungan antara satu jenjang pendidikan tinggi dengan jenjang Iainnya (MI, MTs, dan MA sampal ke IAIN/ perguruan tinggi). Tujuan institusional juga harus memperhatikan fungsi dan karakter dari lembaga pendidikannya, seperti lembaga pendidikan umum, pendidikan guru dan sebagainya




c. Tujuan Kurikuler
 Tujuan kurikuler adalah penjabaran dan tujuan kelembagaan pendidikan (tujuan institusiorial). Tujuan kurikuler adalah tujuan di bidang studi atau mata pelajaran sehingga mencerminkan hakikat keilmuan yang ada di dalamnya. Secara oerasional adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik setelah mempelajari suatu mata pelajaran atau bidang studi tersebut.

d.      Tujuan Instruksional
 Tujuan instruksional dijabarkan dari tujuan kurikuler. Tujuan ini adalah tujuan yang langsung dihadapkan kepada anak didik sebab hrus dicapai oIeh mereka setelah menempuh proses belajar-mengajar. Oleh karena itu tujuan instruksional dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh anak didik setelah mereka menyelesaikan proses belajar-mengajar. Ada dua jenis tujuan institusional, yaitu tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Perbedaan kedua tujuan tersebut terletak dalam hal kemampuan yang diharapkan dikuasai anak didik. Pada TIU sifatnya lebih luas dan mendalam, sedangkan TIK lebih terbatas dan harus dapat diukur pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dengan demikian TIK harus lebih operasional dan mudah dilakukan pengukuran





4. Macam Macam Kurikulum

Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah kurikulum sebagai berikut:
                    
1.      Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum

2.       Kurikulum aktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar.

3.      Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum faktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh, akan menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian peserta didik.










a.      Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita dapat membedakan:

1.       Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum), kurikulum yang mata pelajarannya dirancang untuk diberikan secara terpisah-pisah. Misalnya, mata pelajaran sejarah diberikan terpisah dengan mata pelajaran geografi, dan seterusnya.

2.       Kurikulum terpadu (integrated curriculum), kurikulum yang bahan ajarnya diberikan secara terpadu. Misalnya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan fusi dari beberapa mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran dikenal dengan pembelajaran tematik yang diberikan di kelas rendah Sekolah Dasar. Mata pelajaran matematika, sains, bahasa Indonesia, dan beberapa mata pelajaran lain diberikan dalam satu tema tertentu.

Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum), kurikulum yang bahan ajarnya dirancang dan disajikan secara terkorelasi dengan bahan ajar yang lain.

b.      Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat dibedakan menjadi:

1.       Kurikulum nasional (national curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional.

2.      Kurikulum negara bagian (state curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh masing-masing negara bagian, misalnya di masing-masing negara bagian di Amerika Serikat.

3.      Kurikulum sekolah (school curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan diferensiasi dalam kurikulum.



5. Kebijakan Kurikulum Di Indonesia

Sudah dari 1945 tahun Indonesia merdeka dan sejak itu pula pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud), melakukan 11 kali pergantian kurikulum pendidikan nasional. Kurikulum tahun 1947, yang disebut dengan Rencana Pelajaran Dirinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai, terimplementasi selama 17 tahun dan mengalami perubahan pada tahun 1964, dengan kurikulum yang disebut dengan Rencana Pendidikan Dasar yang hanya terimplementasi selama 4 tahun. Lalu, tahun 1968, dengan Kurikulum Sekolah Dasar yang diubah pada tahun 1974, dengan Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan dan hanya 1 tahun kemudian, yaitu tahun 1975, diubah kembali menjadi Kurikulum Sekolah Dasar.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Mohammad Nuh, mengklaim Kurikulum 2013 memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kurikulum KTSP tahun 2006 (kompas.com 11 Maret 2013). Keunggulan itu, antara lain, pertama, jika menurut Kurikulum KTSP mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka Kurikulum 2013 pola pikir itu dibalik. Kedua, kurikulum baru 2013 memiliki pendekatan yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas siswa. Kurikulum baru memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ketiga, kurikulum baru tersebut didisain agar terdapat hubungan yang berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Mohammad Nuh, mengklaim Kurikulum 2013 memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kurikulum KTSP tahun 2006 (kompas.com 11 Maret 2013). Keunggulan itu, antara lain, pertama, jika menurut Kurikulum KTSP mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka Kurikulum 2013 pola pikir itu dibalik. Kedua, kurikulum baru 2013 memiliki pendekatan yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas siswa. Kurikulum baru memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ketiga, kurikulum baru tersebut didisain agar terdapat hubungan yang berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA.

Jika melihat penjelasan dari Menteri di atas, kita agak sedikit mengerutkan dahi untuk bisa mencerna dan memahami letak perbedaan-perbedaan yang signifikan antar kurikulum tersebut.
Kebanyakan, letak perbedaannya bukanlah pada hakikat dari konsep kurikulum, namun pada sisi praktis dan teknis. Seperti misalnya, pada kurikulum berbasis kompetensi (2004), yang sebetulnya cukup ideal untuk bisa diterapkan karena secara prinsip menyentuh pada tiga aspek pendidikan yang menyentuh siswa secara psikologis dan intelektual, yaitu sisi kognitif, afektif dan motorik.

Ketiga sisi tersebut sebetulnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan apa yang dimaksud dengan tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (motorik). Namun yang membedakan menurut menteri pendidikan adalah kesinambungan antara kompetensi yang ada di sd, smp hingga sma. Ini berarti, seharusnya setiap kegiatan belajar mengajar, di setiap level, haruslah mempersiapkan siswa didik agar mampu menguasai kompetensi pada level pendidikan yang lebih tinggi.


















BAB 3
PENUTUP

1.     Kesimpulan

Kurikulum adalah progam pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan bagi peserta didk. Kurikulum juga berbentuk segala pengalaman pendidikan yang diberikan oleh lembaga pendidik kepada seluruh peserta didik baik dilakukan dalam lembaga maupun diluar lembaga pendidikan.
Dilihat dari sisi pengembangan kurikulum (guru) kurikulum mempunyai fungsi : Fungsi preventif ,Fungsi korektif, Fungsi konstruktif, Fungsi penyesuaian, Fungsi integrasi, Fungsi diferensiasi, Fungsi persiapan, Fungsi pemilihan, Fungsi diagnostic. Tujuan kurikulum pada dasarnya merupakan tujuan setiap program pendidikan yang diberikan kepada anak didik, Karena kurikulum merupakan alat antuk mencapai tujuan, maka kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan. Dalam sistem pendidikan di Indonesia tujuan pendidikan bersumber kepada falsafah Bangsa Indonesia.


MAKASIH
DIAN SAFIRA
RIZKA TEGUH KUARA 


MODEL MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

BAB I
PENDAHULUAN

     1.1 Latar belakang masalah
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan pelajaran serat cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang menentukan dalam suatu sistem pendidikan karena merupakan alat  untuk mencapai tujuan pendidikan. Apabila masyarakat dinamis, kebutuhan anak didik pun akan dinamis, maka perkembangan kurikulum dinamis, sehingga peserta didik tidak terasing dalam masyarakat.
Seiring dengan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat, dan dinamis, menuntut kemajuan masyarakat sebagai pelaku pendidikan juga berkembang, untuk itu pemerintah melalui guru berusaha mewujudkan sumber daya manusia yang kompeten sebagai produk hasil dari proses pendidikan. Maka dari itu perlu adanya pengembangan kurikulum sebagai modal dasar agar pembelajaran dapat berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 
Dalam pengembangan kurikulum, banyak model-model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan.
Dari beberapa penjelasan diatas, pengembangan kurikulum sangat penting sekali bagi dunia pendidikan, agar tujuan daripada pendidikan dapat terwujud dengan baik.  Ada beberapa model yang diungkapkan oleh para ahli dalam pengembangan kurikulum, yang dalam hal itu, akan dibahas dalam makalah penulis yang berjudul “model-model pengembangan kurikulum”.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Makna Model Pengembangan Kurikulum

Menurut Good dan Traaver, model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi pristiwa kompleks atau sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu ke dalam realitas, yang sifatnya lebih praktis. Model berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat prespektif untukmengambil keputusan atau sebagai petunjuk untuk kegiatan pengelolaan.
Pengembangan kurikulum tidak dapat terlepas dari berbagai aspek yang memengaruhinya, seperti cara berfikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengmbangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendasain (designing), menerpakan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum.
Dalam pengembanga kurikulum, hendaknya sebisa mungkin didasarkan pada faktor-faktor yang konstan sehingga ulasan mengenai hal yang dibahas dapat dilakukan secara konsisten. Faktor-faktor konstan yang dimaksud adalah dalam pengembangan kurikulum perlu didasarkan pada tujuan, bahan pelajaran, proses belajar mengajar, dan evaluasi yang menggambarkan dalam pengembangan tersebut. Faktor-faktor konstan tersebut, yang terdiri dari beberapa komponen tersebut, harus saling bertalian erat. Misalnya evaluasi harus sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, begitujuga dengan bahan ajar dan proses belajar mengajar.


Sehingga, agar dapat mengembangkan kurikulum secara baik, pengembang kurikulum semestinya memahami berbagai jenis model pengembangan kurikulum. Yang dimaksud dengan model pengembangan kurikulum yaitu langkah atau prosedur sistematis dalam proses penyususnan suatu kurikulum. Dengan memahami esensi model pengembangan kurikulum dan sejumlah alternatif model pengembangan kurikulum, para pengembang kurikulum diharapkan akan bisa bekerja secara lebih sistematis, sistemik dan optimal. Sehingga haarpan ideal terwujudnya suatu kurikulum yang akomodatif dengan berbagai kepentingan, teori dan praktik, bisa diwujudkan.

B. Sumber Pengembangan Kurikulum

            Dalam pengembangan kurikulum, ada beberapa sumber atau landasan inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari pekerjaan dan kehidupan orang dewasa. Karena sekolah mempersiapkan anak bagi kehidupan orang dewasa, kurikulum terutama isi kurikulum diambil dari kehidupan orang dewasa.
            Dalam pengembangan selanjutnya, sumber ini menjadi luas meliputi berbagai unsur kebudayaan. Manusia adalah mahluk yang berbudaya, hidup dalam lingkungan budaya, dan turut menciptakan budaya. Untuk hidup dalam lingkungan budaya, ia harus mempelajari budaya maka budaya menjadi sumber utama isi kurikulum,
Sumber lain ialah anak, dalam pendidikan atau pengajaran, yang belajar adalah anak. Pendidikan atau pengajaran bukan memberikan sesuatu kepada anak, melainkan menumbuhkan potensi-potensi yang telah ada pada anak. Ada tiga pendekatan kepada anak sebagai sumber kurikulum, yaitu kebutuhan siswa, perkembangan siswa, dan minat siswa.




            Beberapa pengembanagn kurikulum berdasarkan pada pengalaman-pengalaman penyusunan kurikulum yang lalu. Pengalaman pengembangan kurikulum yang lalu menjadi sumber penyusunan kurikulum kemudian. Kemudian, yang menjadi sumber penyusunan kurikulum ialah kekuasaan sosial politik. Di Indonesia pemegang kekuasaan social-politik dalam penentuan kurikulum adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Dirjen Pendidikan Tinggi bekertasama dengan Balitbangdigbud.

      C.     Model-model Pengembangan Kurikulum
      1.      Model Ralph Tyler (Basic Principles Curriculum and Instruction)
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Tyler (1949) diajukan berdasarkan pada beberapa pernyataan yang mengarah pada langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, menurut Tyler ada empat tahap yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum, seperti gambar berikut:

Objectives

Selecting Learning experience

Organizing Learning Experience

Evaluation

     a.    Menentukan tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan arah atau sasaran akhir yang harus dicapai dalam program pendidikan dan pembelajaran. Tujuan pendidikan harus menggambarkan perilaku akhir setelah peserta didik mengikuti program pendidikan, sehingga tujuan tersebut harus dirimuskan secara jelas sampai pada rumusan tujuan khusus guna mempermudah pencapaian tujuan tersebut.
Ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dalam penentuan tujuan pendidikan menurut Tyler, yaitu : a) hakikat pesarta didik b) kehidupan masyarakat masa kini dan c) pandangan para ahli bidang studi. Penentuan tujuan pendidikan dengan berdasarkan masukan dari ketiga aspek tersebut. Kemudian difilter oleh nilai-nilai filosofis masyarakat dan silosofis pendidikan serta psikologi pendidikan.
Selain itu ada lima faktor yang menjadi arah penentu tujuan pendidikan, yaitu : pengembangan kemampuan berfikir, membantu memperoleh informasi, pengembangan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat peserta didik, dan pengembangan sikap sosial. Jadi, dalam menentukan tujuan pendidikan hendaknya jangan hanya memperhitungkan pendapat para ahli disiplin ilmu melainkan juga kebutuhan dan minat anak dan masyarakat yang sesuai dengan falsafah Pendidikan.

          b.    Menentukan proses pembelajaran
Setelah penetapan tujuan, selanjutnya ialah menetukan proses pembelajaran apa yang paling cocok dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam penentuan proses pembelajaran adalah persepsi dan latar belakang kemampuan paserta didik. Hal ini agar mereka dapat mengadakan reaksi mental dan emosional maupun dalam bentuk kelakuan.

         c.    Menentukan organisasi pengalaman belajar
Setelah proses pembelajaran ditentukan, selanjutnya menentukan organisasi pengalaman belajar. Pengalaman belajar di dalamnya mencakup tahapan-tahapan belajar dan isi atau materi belajar. Bahan yang harus dipelajari peserta didik dan pengalaman belajar apa yang harus dilakukan, diorganisasikan sedemikian rupa sehingga dapat memudahkan dalam pencapaian tujuan. Kejelasan tujuan, materi belajar dan proses pembelajaran serta urutan-urutan akan mempermudah untuk memperoleh gambaran tentang evaluasi pembelajaran apa yang sebaiknya digunakan.


     d.   Menentukan evaluasi pembelajaran
Menetukan jenis evaluasi apa yang cocok digunakan, merupakan kegiatan akhir dalam model Tyler. Jenis penilaian yang akan digunakan, harus disesuaikan dengan jenis dan sifat dari tujuan pendidikan atau pembelajaran, materi pembelajaran, dan proses belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar penetapan jenis evaluasi bisa tepat, maka para pengembang kurikulum disamping harus memerhatikan komponen-komponen kurikulum lainnya, juga harus memerhatikan prinsip-prinsip evaluasi yang ada.[1]
       Jadi dalam melakukan evaluasi hendaknya jangan hanya berbentuk tes tertulis akan tetapi juga berupa observasi, hasil pekerjaan siswa, kegiatan dan partisipasinya serta menggunakan metode-metode lainnya agar diperoleh gambaran yang lebih komperhensif tentang taraf pencapaian tujuan pendidikan.

      2.       Model Taba (inverted Model)
Model Taba merupakan modifikasi dari model Tyler. Modifikasi tersebut penekanannya terutama pada pemusatan perhatian guru. Taba memrcayai bahwa guru merupakan faktor uatama dalam usaha pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan guru dan memosisikan guru sebagai inovator dalam pengembangan kurikulum merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba.
Langkah-langkah dalam proses pengembangan kurikulum menurut Taba:
a.    Diagnosis Kebutuhan
Agar kurikulum menjadi berguna pada pengalaman belajar murid, Taba berpendapat bahwa segatlah penting mendiagnosis berbagai kebutuhan pendidik. Hal ini merupakan langkah penting pertama dari Taba tentang apa yang anak didik inginkan dan perlukan untuk belajar. Karena latar belakang peserta didik yang beragam, maka diperlukannya diagnosis tentang gaps, berbagai kekurangan, (deficiencies), dan perbedaan latar belakang peserta didik (variations in these background).


b.   Formulasi Pokok-pokok (Merumuskan tujuan pendidikan)
Formusai yang jelas dan tujuan-tujuan yang koperhensif  untuk membentuk dasar pengembangan elemen-elemen berikutnya. Secara jelas, taba berpendapat bahwa hakikat tujuan akan menentukan jenis pelajaran yang perlu untuk diikuti.
        Dalam merumuskan tujuan pendidikan, ada empat area yang perlu diperhatikan, pertama, konsep atau ide yang akan dipelajari (concepts or ideas to be learned). Kedua, sikap, sensitivitas, dan perasaan yang akan dikembangkan (attitudes, sensitivities, and feeling to be developed). Ketiga, pola pikir yang akan ditekankan, dikuatkan, atau dimulai/dirumuskan (ways of thingking to be reinforced, strengthened, or initiasted). Keempat, kebiasaan dan kemampuan yang akan dikuasai (habits and skills to be mastered).

c.    Seleksi Isi
Menurut Taba, isi (materi) yang akan diajarkan kepada peserta didik adalah 1). Harus Valid dan signifikan, 2). Isi Harus relevan dengan kenyataan sosial, 3). Isi hasus mengandung keseimbangan antara keluasan dan kedalaman. 4). Isi harus mencakup beberapa tujuan, 5). Isi harus dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta didik untuk mempelajarinya, dan bisa dihubungkan dengan pengalaman mereka.

d.   Organisasi isi
Dalam menyusun kurikulum, terutama terkait dengan bentuk penyajian bahan pelajaran/isi atau organisasi kurikulum/isi, ada dua organisasi kurikulum yang bisa menjadi pilihan, yaitu kurikulum berdasarkan mata pelajaran dan kurikulum terpadu.







e.    Seleksi pengalaman belajar
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam seleksi pengalaman belajar peserta didik. 1. Pengalaman peserta didik harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Sebab, setiap tujuan akan menentukan pengalaman pembelajaran. 2. Setiap pengalaman belajar harus memuaskan peserta didik 3. Setiap rancangan pengalaman belajar sebaiknya melibatkan peserta didik, 4. Dalam satu pengalaman belajar kemungkinan dapat mencapai tujuan yang berbeda.

f.    Organisasi Pengalaman belajar
Mengutip pendapatnya Tyler, terdapat tiga prinsip dalam mengorganisasi pengalaman belajar, yaitu kontinuitas, urutan isi dan integrasi. Kontinuitas bearti bahwa, pengalaman belajar yang diberikan harus memiliki kesinambungan yang diperlukan untuk pengembangan belajar selanjutnya dan untuk memperoleh pengalaman belajar dalam bidang lain. Adapun urutan isi, artinya setiap pengalaman belajar yang diberikan kepada peserta didik harus memperhatikan tingkat perkembangan mereka.

g.   Penetuan tentang apa yang harus dievaluasi dan cara untuk melakukannya.
Dalam melakukan evaluasi, Taba menganjurkan beberapa hal, 1. Menetapkan kriteria penilaian, 2. Menyususn program evaluasi yang koperhensif, 3. Menerapkan teknik pengumpulan data, 4. Melakukan interpretasi data evaluasi, 5. Menerjemahkan evaluasi ke dalam kurikulum.

3. Model Oliva
Rumusan Filsafat
 
Implementasi
 
Implementasi
 
Desain Perencanaan
 
Rumusan Tujuan Khusus
 
Rumusan Tujuan Umum
 
            Menurut oliva, suatu model kurikulum harus bersifat simpel, koperhensif dan sistematik. Oliva menggambarkan bahwa dalam pengembangan suatu kurikulum, ada 12 komponen yang satu sama lain saling berkaitan, seperti yang terlihat dalam gambar berikut.

 
           

Dari bagian di atas, tampak model pengenbangan kurikulum yang dikemukakan oleh olivia.
Komponen Pertama, perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi pendidikan, yang semianya berseumber dari analisis kebutuhan siswa dan analisis kebutuhan masyarakat.
Komponen Kedua, adalah analisis kebutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada, kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan oleh sekolah. Sumber kurikulum dapat dilihat dari komponen satu dan dua ini. Komponen satu berisi pernyataan-pernyataan yang bersifat umum dan sangat ideal. Sedanglan komponen dua sudah mengarah pada tujuan yang lebih khusus.
Komponen Ketiga dan keempat, berisi tentang tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum yang didasarkan pada kebutuhan seperti yang tercantum pada komponen satu dan dua.
Komponen kelima, mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum.
Komponen keenam dan ke tujuh, mulai menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum dan khusus pembelajaran.
Komponen kedelapan, menetapkan strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat tercapai tujuan .
Komponen kesembilan, setudi awal tentang strategi dan teknik penilaian yang dapat digunakan.
Komponen kesepuluh, mengimplementasikan strategi kurikulum, setelah strategi diimplementasikan, pengembangan kurikulum kembali ke komponen sembilan atau komponen sembilan plan B, untuk menyempurnakan alat atau teknik penilaian.
Komponen ke sebelas dan duabelas, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran dan evaluasi kurikulum.




4. D.K. Wheeler (Curriculum Process)
            Wheeler  mempunyai argument tersendiri agar pengembangan kurikulum dapat menggunakan lingkar proses, yang setiap elemennya saling berhubungan dan saling bergantung. Pendekatan yang digunakan Wheeler dalam pengembangan kurikulum pada dasarnya memiliki bentuk rasional. Setiap langkahnya merupakan pengembangan secara logis terhadap model sebelumnya, dan suatu langkah tidak dapat dilakukan sebelum langkah-langkah sebelumnya telah diselesaikan. Wheeler mengembangkan ide-idenya sebagaimana telah dilakukan oleh Tyler dan Taba. Wheeler menawarkan lima langkah yang saling keterkaitan dalam proses kurikulum.
            Lima langkah itu jika dikembangkan dengan logis dan temporer akan menghasilkan suatu kurikulum yang efektif. Wheeler mengembangkan lebihlanjut apa yang dilakukan Tyler dan Taba, meski hanya dipersentasikan agak berbeda. Adapun langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Seleksi maksud, tujuan, dan sasarannya.
b.      Seleksi pengalaman belajar untuk membantu mencapai maksud, tujuan dan sasaran.
c.       Seleksi isi melalui tipe-tipe tertentu dari pengalaman yang mungkin ditawarkan.
d.      Organisasi dan integrasi pengalaman belajar dan isi yang berkenaan dengan proses belajar  mengajar
e.       Evaluasi setiap fase dan masalah tujuan-tujuan.
Berikut merupakan model pengembangan kurikulum versi Wheeler dalam bentuk lingkaran:
Text Box: 1.Aims, goals, and objective Text Box: 2. Selection of learning experience
Text Box: 5. Evaluation Text Box: 3. Selection of content
Text Box: 4. Organization and Integration of learning experience and content










Kontribusi Wheeler terhadap pengembangan kurikulum adalah terhadap hakikat lingkaran dari elemen-elemen kurikulum. Kurikulum proses disini tampak lebih sederhana dan gambar diatas memberikan indikasi bahwa langkah-langkah dalam  lingkaran yang bersifat berkelanjutan memiliki makna responsif terhadap perubahan-perubahan pendidikan yang ada.
5. Audery dan Howard Nicholls
            Audery dan Howard Nicholls mengembangkan suatu pendekatan yang tegas mencakup elemen-elemen kurikulum dengan jelas dan ringkas. Ia menitikberatkan pada pendekatan pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi.
Audery dan Howard Nicholls mendefinisikan kembali metodenya Tyler, Taba dan Wheeler dengan menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran, dan ini dilakukan demi langkah awal, yaitu analisis situasi. Kedua penulis ini mengungkapkan bahwa sebelum elemen-elemen tersebut diambil atau dilakukan dengan lebih jelas, konteks dan situasi di mana keputusan kurikulum itu dibuat harus dipertimbangkan  secara mendetail dan serius. Dengan demikian, analisis situasi menjadi langkah pertama yang menbuat para pengembang kurikulum memehami faktor-faktor yang akan mereka kembangkan[2].
            Ada lima langkah yang diperlukan dalam  proses pengambangan secara kontinu. Langkah-langkah tersebut:
a.       situasional analysis (analisis situasi)
b.      selection of objectives (seleksi tujuan)
c.       selection and organization of content (seleksi dan organisasi isi)
d.      selection and organization of methods (seleksi dan organisasi mode)
e.       evaliation (evaluasi)
Masuknya fase analisis situasi merupakan suatu yang disengaja untuk memaksa para pengembang kurikulum lebih responsif terhadap lingkungan dan secara khusus dengan kebutuhan anak didik. Kedua lebih menekankan perlunya memakai pendekatan yang lebih komperhensif untuk mendiaknosis semua faktor menyangkut semua situasi dengan diikuti penggunaan  pengetahuan dan pengertian yang berasal dari analisis tersebut dalam perencanaan kurikulum. Untuk lebih memahami model kurikulum yang dibuat Nicholls, bisa mengamati sesuai gamba berikut.
Text Box: Selection and organization of method










         Dengan menerapkan situasional analysis sebagai titik permulaan, model ini memberikan dasar data sehingga tujuan-tujuan yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan. Berbeda halnya dengan Wheeler ia tidak merujuk pada analisis situasi yang spesifik, ia sebenarnya lebih menguji pada keberadaan sumber tujuan yang ada.

6. Deckler Walker
Walker berpendapat bahwa para pengembang kurikulum tidak mengikuti pendekatan yang telah ditentukan dari urutan yang rasional dari elemen-elemen kurikulum ketika mereka mengembangkan kurikulum. kurikulum. Lebih baik memprosesnya melalui tiga fase di dalam persiapan natural daripada dalam kurikulum. Kesimpulan tersebut berasal dari analisis Walker terhadap laporan proyek kurikulum, seperti CHEM Stuidi, BSCS, SMSG serta partisipasi pribadinya dalam proyek kurikulum bidang kesenian. Analisis Walker menguraikan apa yang telah dilihat sebagai model alami dalam proses kurikulum. It is a naturalistic model in the sense that it was constructed to represent phenomena and realtions observed in actual curriculum projects faithfully as possible with a few terns and principles.
Untuk lebih jelasnya mengenai model kurikulum versi Walker ini, kita bisa lihat gambar berikut:
Text Box: Platform
Deliberation
 
 










(applying them to practical situations arguing about, accepting, refusing, changing, adapting)
Curriculum Design
 
 





          (Making decision about the various process componen)
Walker mempunyai argument bahwa  pernyataan platform di organisasikan oleh para pengembang kurikulum dan pernyataan tersebut berisi serangkian ide, prefensi dan pilihan, pendapat, keyakinan, dan nilai-nilai yang dimiliki kurikulum.  Aspek-aspek tersebut mungkin tidak definisikan atau secara logis, tapi mereka membrntuk basis platform sehingga kurikulum mendatang bisa dibuat oleh pengembang kurikulum.
Walker berpendapat bahwa pengembang kurikulum tidak memulai tugas dalam keadaan kosong (a blank state), nilai-nilai, konnsepsi, dan hal-hal lain yang pengembangan kurikulum gunakan untuk oroses pengembangan kurikulum mengindikasikan adanya kesukaan dan perlakuan sebagai dasar mengembangkan kurikulum. Walker mengajurkan bahwa: The Platfrom includes an idea of what is ought to be and these guides the curriculum developer in the dertemining what should be do to realize his vision
Ketika interaksi di antara individu dimulai, mererka kemudian memasuki fase pertimabangan yang mendalam. Walker berpendapat bahwa selama fase ini, individu mempertahankan pertanyaan platform mereka sendiri dan menekanakan pada idde-ide yang ada. Berbagai peristiwa ini memberikan suatu (developers) juga beusaha menjelaskan ide-ide mereka mencapai suatu konsesus. Dari periode yang agak kacau, fase yang telah dipertimbangkan menghasilkan suatu ilmuniti yang penuh pertimbangan.
Fase model terakhir Walker adalah menggunakan bentuk design. Pada fase ini, developers membuat keputusan tentang berbagai komponen proses atau elemen-elemen kurikulum. Keputusan akan dicapai setelah ada diskusi mendalam dan dikompromikan oleh individu-individu. Keputusan-keputusan itu kemudian deirekam dan menjadi basis data untuk dokumen kurikulum atau materi yang lebi spesifik.       
  
      7. Malcolm Skilbeck (dyanamic or interactive models)
Malkom Skilback, direktur Pusat Pengembangan Kurikulum Austalia ( Australia’s Curriculum Development Center), mengembangkan suatu interaksi altertnatif atau model dinamis bagi suatu interaksi alternatif atau model dinamis bagi model proses kurikulum. Dalam sebuah artikelnya, Skilbeck (1976) mengajurkan suatu pendekatan dan mengembangkan kurikulum pada tingkat sekolah. Pendapatnya mengenai sekolah di dasarkan pada pengembangan kurikulum (SCBD), sehingga Skilbeck memberikan suatu model yang membuat pendidik dapat mengembangkan kurikulum secara tepat dan realistic. Dalam hal ini, Skilbeck memepertimbangkan model dynamic in nature.
Model dinamis atau interaktif (dyanamic or interactive models) menetapakan pengembangan kurikulum harus mendahulukan sustu elemen kurikulum dan memualianya dengan suatu dari urutan yang telah ditetntukan dan diajurkan oleh model rasional. Skilbeck mendukung petunjuk tersebut, menambahkan sangat penting bagi developers untuk menyadari sumber-sumber tujuan mereka. Untuk mengetahui sumber-sumber tersebut, Skilbeck berpendapat bahwa “a situasional analysis” harus dilakukan. Untuk lebih mudah memahami model yang ditawarkan Skilbeck, gamabr ini mungkin bisa membantu:


 













Model ditas mengkalim bahwa agar School-Based Curriculum Development (SBCD) dapat bekerja secara efektif, lima langkah (steps) diperlukan dalam suatu proses kurikulum. Skilbeck berkata bahwa model dapat diaplikasikan secara bersama dalam pengemban kurikulum, observasi dan peneliaan sistem kurikulum, dan aplikasi nilai dari model tersebut pada nilai dan model tersebut terletak pada pilihan pertama.
Mengingat susunan model ini secara logis termasuk kategori rational by natur, namun Skilbeck mengingatkan bahwa agar tidak terjurumus pada perangkap (trap). Skilbeck mengingatkan bahwa pengembangan kuriulum (curriculum development) perlu mendahulukan rencana mereka dengan memulainya dari salah satu langakah (stage) tersebut secara bersamaan. Pengertian model di atas sangat sangat membingungkan, karena sebenarnya model tersebutmendukung pendekang rasional daripada pengembangan kurikulum. Namun demikian, Skilbeck berkata: The model outlined does not presuppose a means and analysis at all, it simply encourages teams and or groups of curriculum developers to take account different elements and aspects of the curriculum development process, to the see the process as an organic whole and to wrok in a moderately systematic way
Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa alat ini tidak mengisyaratkan suatu alat. Tujuananya adlah menganalisis secara keseluruhan; tetapi secara simbol telah mendorong teams atau groups dari pengembang kurikulum untuk lebih memperhatikan perbedaan-perbedaan elemen dan aspek-aspek proses pengembangan kurikulum, agar lebih bisa melihat proses bekerja dengan cara sistematik dan moderat.      
8.      Model Administratif
Pengembangan kurikulum model ini disebut juga dengan istilah dari atas ke bawah (top down) atau staf lini (line-staff procedure), artinya pengembangan kurikulum ini ide awal dan pelaksanaannya dimulai dari para pejabat tingkat atas pembuat keputusan dan kebijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum. Tim ini sekaligus sebagai tim pengarah dalam pengembangan kurikulum. Langkah kedua adalah membentuk suatu tim panitia pelaksana  atau komisi untuk mengembangkan kurikulum yang didukung oleh beberapa anggota yang terdiri dari para ahli, yaitu: ahli pendidikan, kurikulum, disiplin ilmu, tokoh masyarakat, tim pelaksana pendidikan, dan pihak dunia kerja.
Tim ini bertugas untuk mengembangkan konsep-konsep umum, landasan, rujukan, maupun strategi pengembangan kurikulum yang selanjutnya menyusun kurikulum secara operasional berkaitan dengan pengembangan atau perumusan tujuan pendidikan maupun pembelajaran, pemilihan dan penyusunan rambu-rambu dan substansi materi pelajar, menyusun alternatif proses pembelajaran, dan menentukan penilaian pembelajaran.
Setelah semua tugas dari dari tim kerja pengembangan kurikulum tersebut telah usai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain yang berwewenang atau pejabat yang berkompeten. Setelah mendapatkan beberapa kesempurnaan dan dinilai lebih cukup baik, administer pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut serta memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tersebut.[3]
Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut, selama tahun-tahun permulaan diperlukan pula adanya kegiatan monitoring, pengamatan dan pengawasan serta bimbingan dalam pelaksanaannya. Setelah berjalan beberpa saat, perlu juga dilakukan suatu evaluasi, untuk menilai baik validitas komponen-komponenya. Penilaian tersebut dapat dilakukan oleh tim khusus dari tingkan pusat atau daerah, sedangkan penilaian sekolah dapat dilakukan oleh tim khusus sekolah yang bersangkutan. Hasil penilaian tersebut adalah merupakan umpan balik, baik bagi instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah dan sekolah.
9.       Model Grass Roots
Pengembangan kurikulum model ini kebalikan dari model adaministratif. Model Grass Roots merupakan model pengembangan kurikulum yang dimulai dari arus bawah. Pengembangan kurikulum model ini, berada ditangan staf pengajar sebagai pelaksana pada suatu sekolah atau beberapa kesolah sekaligus. Model ini didasaarkan pada pandangan bahwa implementasi kurikulum akan lebih berhasil jika staf pengajar sebagai pelaksana seudah sejak semula diikutsertakan dalam pengenbagan kurikulum. Model Grass Roots lebih demokratis karena pengembangan dilakukan oleh para pelaksana di lapangan, sehingga perbaikan dan peningkatan dapat dimulai dari unit-unit terkecil dan spesifik menuju bagian-bagian yang lebih besar.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum model Grass Roots, di antaranya : 1) guru harus memiliki kemampuan yang propesional; 2) guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum, penyeselaian permasalahan kurikulum; 3) guru harus terlibat langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan, dan penentuan evaluasi; 4) seringnya pertemuan pemahaman guru dan akan menghasilkan konsensus tujuan, perinsip, maupun rencana-rancana. Ada beberapa hal yang harus diantisipasi dalam model ini, diantaranya adalah akan bervariasinya sistem kurikulum di sekolah karena menerapkan partisipasi sekolah dan masyarakat secara demokratis. Sehingga apabila tidak terkontrol (tidak ada kendali mutu), maka cendrung banyak mengabaikan kebijakan dari pusat.
Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memingkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru, fasilitas, biaya, maupun bahan-bahan perpustakaan, pengembangan kurikulum model grass roots akan lenih baik. Hal  itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.  Dialah yang paling tau kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
10.   Model Demonstrasi
Model pengembangan kurikulum idenya datang dari bawah (Grass Roots). Semula merupakan suatu upaya inovasi kurikulum dalam skala kecil yang selanjutnya digunkan dalam skala yang lebih luas, tetapi dalam prosesnya sering mendapat tantangan atau keidaksetujuan dari pihak-pihak tertentu. Menurut Smith, Stanley, dan Shores, ada dua bentuk model pengembangan ini.
Pertama; sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah yang diorganisasi dan ditunjuk untuk melaksanakan suatu uji coba atau eksperimen suatu kurikulum. Proyek ini bertujuan mengadakan penelitian dan pengembangan tentang salah satu atau beberapa segi/ komponen kurikulum. Hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan dapat digunakan bagi lingkungan yang lebih luas,
  Kedua; dari bebrapa orang guru yang merasa kurang puas tentang kurikulum yang sudah ada, kemudian mereka mengadakan eksperimen, uji coba, dan mengadakan pengembangan secara mandiri.dengan kegiatan ini, mereka mereka mengharapkan ditemukan kurikulum, atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih baik, untuk kemudian digunakan di daerah yang lebih luas.
Ada beberapa kebaikan dalam penerapan model pengembangan ini, di antaranya adalah : 1) kurikulum ini akan lebih nyata dan praktis karena dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan diteliti secara ilmiah; 2) perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan perubahn kurikulum yang sangat luas dan kompleks; 3) hakikat model demonstrasi cerskala kecil akan terhindar dari kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di lapangan; 4) model ini akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat guru dalam mengembangkan program yang baru. 
Dari beberapa model pengembagan kurikulum yang telah diuraikan diatas, ditemukan beberapa perbedaan yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam pengembangan kurikulum model apapun yang digunakan adalah model yang digunakan dalam kurikulum, dan kurikulum tersebut baik  pada masanya. Sebenarnya masih banyak model-model pengembagan kurikulum yang lain beserta langkah-langkah yang ditawarkan yang juga memiliki orientasi kata yang berbeda dengan yang lainnya. Namun, pada dasarnya semua kurikulum tersebut, memiliki komponen tujuan, bahan, proses belajar mengajar, dan evaluasi yang sama.


























Kesimpulan

Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa model pengembangan kurikulum adalah langkah sistematis dalam penyususnan kurikulum. Alternatif prosedur dalam rangka mendesain, menerapkan dan mengevaluasi suatu kurikulum.model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan  program pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan, berdasarkan pada perkembangan teori dan praktek kirikulum.
Ada banyak model-model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya: 1).Model Ralph Tyler (Basic Principles Curriculum and Instruction). 2). Model Taba (inverted Model), 3). Model Olivia 4). D.K. Wheeler (Curriculum Process), 5). Audery dan Howard Nicholls, 6). Deckler Walker, 7). Malcolm Skilbeck (dyanamic or interactive models), 8). Model Administratif, 9). Model Grass Roots, 10). Model Demonstrasi, dari beberapa model tersebut, pada dasarnya semua kurikulum tersebut, memiliki komponen tujuan, bahan, proses belajar mengajar, dan evaluasi yang sama.















Daftar Pustaka

Arifin, Zainal, Pengembangan Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan Islam, Jogjakarta: Diva Press

Idi, Abdullah, Pengembangan Kurikulum teori dan Praktik, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013

Nasution, Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002

Ruhimat, Toto dan Alinawati, Muthia, Kurikulum dan Pembelajaran,  Jakarta: Rajawali Press, 2013

Sanjaya, Wina, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, Jakarta: Kencana, 2011

Subandijah, Pengembangan dan inovasi Kurikulum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996

Sukmadinata, Nana Syaodih, Pengembangan kurikulum teori dan praktik, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung: PT. Imperial Bhakti Utama, 2007







[3] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum teori dan praktik, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.  161


UCAPAN TERIMAKASIH SEBESAR-BESARNYA KEPADA :
             MAKALAH INI DISUSUN OLEH REKAN-REKAN SAYA YAKNI :
                      Intan Oph Darwin 
                      Firdaus Adiannur  
                      Fanny Sella
FKIP UNSIYAH 2014.